Hubungan
antara negara dan kelompok agama tertentu merupakan salah satu aspek yang lebih
sulit dari hubungan antara pemerintah dan agama: setiap kali sebuah negara
mengadopsi agama, itu pasti akan menjadi hambatan bagi kaum minoritas yang
tidak termasuk dalam agama yang diadopsi. Situasi menjadi lebih rumit ketika
agama yang diadopsi mengambil peranan
yang penting di masyarakat.
Berkenaan
dengan Koptik di Mesir, identitas Koptik bukan identitas keagamaan eksklusif. Identitas Koptik dikenal pra-penanggalan Kristen, dan
kata itu sendiri digunakan untuk mendefinisikan semua orang yang tinggal di
tanah Mesir. Pada
masa Yunani Kuno, kata "Koptik" mengacu pada semua orang Mesir, lalu
dari mana nama modern "Egypt" datang? Kata Egypt berasal dari bahasa
Yunani Kuno “Aigyptus” yang sebelumnya berasal dari bahasa Mesir Kuno Hakaptah
atau "House of Petah". Petah merupakan nama Dewa Pencipta di zaman Mesir
Kuno. Dengan penghapusan dua huruf pertama, kata menjadi “gypt”. Setelah
penaklukan Arab Mesir pada abad ketujuh nomenklatur baru diberlakukan, dimana orang Mesir asli yang memeluk Islam tidak
lagi dikenal sebagai Koptik tetapi sebagai umat Islam, sementara mereka yang tetap dengan kepercayaan pribumi terus dikenal
sebagai "Koptik".
Seiring
dengan menyebarnya Islam di Mesir berkembang pula bahasa Arab sehingga
orang-orang pribumi Mesir dan orang-orang Kristen Mesir pribumi beralih dari
bahasa asli mereka ke bahasa Arab karena populasi yang dominan di Mesir adalah
Islam, dan mereka menggunakan bahasa Arab. Karena huruf “g” tidak ada dalam
bahasa Arab, maka kata huruf “g dalam kata “gypt” diganti dengan “q” menjadi "قبطي" yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan
Coptic.
Koptik Ortodoks
masih tetap menjadi kepercayaan utama Kristen di
Mesir karena memiliki garis
patriarkal yang
menghubungkan kembali ke St Markus. Lembaga Koptik Ortodoks juga lembaga
tertua di Mesir yang telah
didirikan pada masa kedatangan
agama Kristen di Sungai Nil. Orang-orang Kristen Mesir menjadi anggota Gereja Ortodoks
Koptik, sebuah kelompok yang terdiri dari 95% dari orang-orang Kristen Mesir. Perlu
diketahui bahwa orang Koptik adalah
orang-orang Kristen Mesir yang beraliran koptik. Aliran Kristen Koptik merupakan salah satu aliran Kristen paling
tua selain Maronit, Katolik dan Ortodox. Di Timur Tengah, ketiga aliran Kristen
ini yang mendominasi penganut disana.
Khusus di Mesir, jumlah penganut Koptik sekitar 10% dari jumlah penduduk Mesir.
Tokoh Koptik yang paling terkenal mungkin adalah Boutros Buotros Ghali yang
pernah menjadi Sekretaris Jenderal PBB periode 1992-1997.
Ciri khas yang membedakan orang
Koptik dan penduduk Mesir lainnya adalah tanda-tanda Kristiani yang mereka
kenakan seperti kalung salib dan juga gambar-gambar Yesus Kristus yang mereka
taruh di dinding-dinding rumah atau toko mereka. Secara fisik memang tidak ada perbedan yang berarti antara orang
Koptik dengan orang-orang Mesir lainnya yang berasal dari keturunan Arab.
Mereka persis seperti orang-orang Timur Tengah pada umumnya. Orang Koptik juga
dipercaya sebagai penduduk asli Mesir yang turun temurun hanya menikah dengan
kaumnya saja. Sedangkan penduduk Mesir
yang beragama Islam merupakan hasil pembauran antara orang Mesir dengan orang
Arab setelah kerajaan-kerajaan kuno Mesir ditaklukkan oleh pasukan Muslim keturunan Arab. Pengaruh Arab tak
hanya sampai kepada orang Mesir yang muslim saja, tetapi juga kepada orang
Koptik. Salah satu contohnya adalah tata bahasa liturgi (tata cara ibadah)
gereja ke dalam bahasa Arab.
Masyarakat
Arab pada dasarnya didominasi oleh budaya dan agama Islam yang telah
terinternalisasi selama ratusan tahun lamanya. Keadaan ini menjadikan bangsa
Arab sebagai bangsa yang paling homogen di dunia meskipun masih terdapat kaum minoritas
yang hidup di dalamnya. Apakah bangsa Arab yang mayoritas memeluk agama Islam
memiliki prospek yang tinggi untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam sebuah ide
dan perdamaian atau justru keadaan ini memicu adanya konflik antar bangsa Arab
sendiri? Kenyataannya bahwa bangsa Arab yang didominasi oleh budaya tertentu
menunjukkan bahwa kaum minoritas memiliki perbedaan yang cukup signifikan
dibandingkan kaum mayoritas yang dapat memicu konflik ketika terdapat
etnoreligius yang kuat, kaburnya batas-batas dan legitimasi entitas yang
berdaulat di Timur Tengah. Misalnya yang terjadi pada kaum Kristen Koptik di
Mesir, sebagai minoritas keagamaan, orang Koptik seringkali menjadi korban
penganiayaan akibat diskriminasi di Mesir modern dan juga menjadi sasaran terorisme
oleh kelompok extremis Islam militan. Marginalisasi oleh pemerintah meningkat
sejak kudeta tahun 1952 oleh Gamal Abdel Nasser. Sampai sekarang, orang Kristen
Koptik diharuskan memperoleh izin presiden untuk perbaikan gereja, bagaimana
pun kecilnya. Meskipun pada tahun 2005, aturan ini diberlakukan dengan
menyerahkan otoritas izin kepada para gubernur, kaum Koptik tetap menghadapi
banyak halangan dan batas untuk mendirikan gereja-gereja baru (WorldWide
Religious News).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar