Minggu, 14 Juni 2015

BAHASA ARAB DAN KRISIS IDENTITAS KRISTEN KOPTIK



            Hubungan antara negara dan kelompok agama tertentu merupakan salah satu aspek yang lebih sulit dari hubungan antara pemerintah dan agama: setiap kali sebuah negara mengadopsi agama, itu pasti akan menjadi hambatan bagi kaum minoritas yang tidak termasuk dalam agama yang diadopsi. Situasi menjadi lebih rumit ketika agama  yang diadopsi mengambil peranan yang penting di masyarakat.
            Berkenaan dengan Koptik di Mesir, identitas Koptik bukan identitas keagamaan eksklusif. Identitas Koptik dikenal pra-penanggalan Kristen, dan kata itu sendiri digunakan untuk mendefinisikan semua orang yang tinggal di tanah Mesir. Pada masa Yunani Kuno, kata "Koptik" mengacu pada semua orang Mesir, lalu dari mana nama modern "Egypt" datang? Kata Egypt berasal dari bahasa Yunani Kuno “Aigyptus” yang sebelumnya berasal dari bahasa Mesir Kuno Hakaptah atau "House of Petah". Petah merupakan nama Dewa Pencipta di zaman Mesir Kuno. Dengan penghapusan dua huruf pertama, kata menjadi “gypt”. Setelah penaklukan Arab Mesir pada abad ketujuh nomenklatur baru diberlakukan, dimana orang Mesir asli yang memeluk Islam tidak lagi dikenal sebagai Koptik tetapi sebagai umat Islam, sementara mereka yang tetap dengan kepercayaan pribumi terus dikenal sebagai "Koptik". Seiring dengan menyebarnya Islam di Mesir berkembang pula bahasa Arab sehingga orang-orang pribumi Mesir dan orang-orang Kristen Mesir pribumi beralih dari bahasa asli mereka ke bahasa Arab karena populasi yang dominan di Mesir adalah Islam, dan mereka menggunakan bahasa Arab. Karena huruf “g” tidak ada dalam bahasa Arab, maka kata huruf “g dalam kata “gypt” diganti dengan “q” menjadi "قبطي"  yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Coptic.
            Koptik Ortodoks masih tetap menjadi kepercayaan utama Kristen di Mesir karena memiliki garis patriarkal yang menghubungkan kembali ke St Markus. Lembaga Koptik Ortodoks juga lembaga tertua di Mesir yang telah didirikan pada masa kedatangan agama Kristen di Sungai Nil. Orang-orang Kristen Mesir menjadi anggota Gereja Ortodoks Koptik, sebuah kelompok yang terdiri dari 95% dari orang-orang Kristen Mesir.             Perlu diketahui bahwa  orang Koptik adalah orang-orang Kristen Mesir yang beraliran koptik. Aliran Kristen Koptik  merupakan salah satu aliran Kristen paling tua selain Maronit, Katolik dan Ortodox. Di Timur Tengah, ketiga aliran Kristen ini  yang mendominasi penganut disana. Khusus di Mesir, jumlah penganut Koptik sekitar 10% dari jumlah penduduk Mesir. Tokoh Koptik yang paling terkenal mungkin adalah Boutros Buotros Ghali yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal PBB periode 1992-1997.
            Ciri khas yang membedakan orang Koptik dan penduduk Mesir lainnya adalah tanda-tanda Kristiani yang mereka kenakan seperti kalung salib dan juga gambar-gambar Yesus Kristus yang mereka taruh di dinding-dinding rumah atau toko mereka. Secara fisik memang  tidak ada perbedan yang berarti antara orang Koptik dengan orang-orang Mesir lainnya yang berasal dari keturunan Arab. Mereka persis seperti orang-orang Timur Tengah pada umumnya. Orang Koptik juga dipercaya sebagai penduduk asli Mesir yang turun temurun hanya menikah dengan kaumnya saja.  Sedangkan penduduk Mesir yang beragama Islam merupakan hasil pembauran antara orang Mesir dengan orang Arab setelah kerajaan-kerajaan kuno Mesir ditaklukkan oleh pasukan  Muslim keturunan Arab. Pengaruh Arab tak hanya sampai kepada orang Mesir yang muslim saja, tetapi juga kepada orang Koptik. Salah satu contohnya adalah tata bahasa liturgi (tata cara ibadah) gereja ke dalam bahasa Arab.
            Masyarakat Arab pada dasarnya didominasi oleh budaya dan agama Islam yang telah terinternalisasi selama ratusan tahun lamanya. Keadaan ini menjadikan bangsa Arab sebagai bangsa yang paling homogen di dunia meskipun masih terdapat kaum minoritas yang hidup di dalamnya. Apakah bangsa Arab yang mayoritas memeluk agama Islam memiliki prospek yang tinggi untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam sebuah ide dan perdamaian atau justru keadaan ini memicu adanya konflik antar bangsa Arab sendiri? Kenyataannya bahwa bangsa Arab yang didominasi oleh budaya tertentu menunjukkan bahwa kaum minoritas memiliki perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan kaum mayoritas yang dapat memicu konflik ketika terdapat etnoreligius yang kuat, kaburnya batas-batas dan legitimasi entitas yang berdaulat di Timur Tengah. Misalnya yang terjadi pada kaum Kristen Koptik di Mesir, sebagai minoritas keagamaan, orang Koptik seringkali menjadi korban penganiayaan akibat diskriminasi di Mesir modern dan juga menjadi sasaran terorisme oleh kelompok extremis Islam militan. Marginalisasi oleh pemerintah meningkat sejak kudeta tahun 1952 oleh Gamal Abdel Nasser. Sampai sekarang, orang Kristen Koptik diharuskan memperoleh izin presiden untuk perbaikan gereja, bagaimana pun kecilnya. Meskipun pada tahun 2005, aturan ini diberlakukan dengan menyerahkan otoritas izin kepada para gubernur, kaum Koptik tetap menghadapi banyak halangan dan batas untuk mendirikan gereja-gereja baru (WorldWide Religious News).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar