Minggu, 14 Juni 2015

POLITIK AIR DI TIMUR TENGAH



            Meskipun wilayah Timur Tengah sendiri dibatasi oleh 2 samudra yaitu: Samudra Atlantik di Barat, dan Samudra India di Selatan, serta dibatasi juga oleh 6 laut yaitu; Laut Tengah (Mediteranean), Laut Merah, Laut Arabia, Laut Mati, Laut Caspia, dan Laut Aegean, namun keadaan masing-masing Negara Timur tengah akan pemilikan Laut/Samudra tidaklah sama. Ada Negara yang memiliki pantai yang amat panjang dan terdiri dari lebih dari satu Laut/Samudra seperti Arab Saudi yang memiliki Laut Merah, dan Laut Arabia, Turki memiliki Laut Mati dan Laut Aegean, Israel dan Mesir memiliki Laut Mediterranean dan Laut Merah, serta Moroko yang memiliki Laut Tengah dan Samudra Atlantik, atau Uni Emirat Arab dan Oman yang memiliki Laut Arab dan Samudra India. Sementara itu, ada Negara yang dapat dikatakan sama sekali tidak memiliki pantai yaitu Yordania, atau memiliki tetapi sangat terbatas seperti Irak dan suriah.
            Mengingat pentingnya  air laut bagi superioritas militer, pengangkutan eksport minyak dari negara-negara Timur Tengah, dan sebagai pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut maka perbedaan kondisi air laut tidak jarang menimbulkan konflik.
            Bila sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, maka perbatasan laut baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas.  Masalah perbatasan air laut di Timur Tengah pada umumnya disebabkan oleh jarak yang terlalu dekat antara satu negara dengan negara yang lain. Masalah yang berikutnya yaitu kandungan kekayaan alam yang terdapat di perbatasan laut seperti minyak, mineral, dan ikan, juga pulau-pulau yang terdapat di perbatasan sering sekali menimbulkan sengketa.
            Masalah air tawar di Timur Tengah tidak kalah penting dengan masalah air laut karena ini menyangkut secara langsung kehidupan manusia. Kebutuhan akan air tawar di Timur Tengah semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk, dan semakin ditingkatkanya pertanian dengan irigasi. Sehingga ada kekhawatiran dalam waktu sepuluh tahun mendatang negara-negara Arab akan menghabiskan sebagian besar pendapatan minyaknya untuk membeli air. Bahkan Bank Dunia memperkirakan di tahun 1995 nanti Yordania, Israel, dan West Bank akan kehabisan air permukaannya. Sedangkan menurut Boutros Ghali di Timur Tengah air akan menjadi komoditi yang lebih berharga daripada minyak. Selanjutnya ia juga mengatakan bahwa perang Timur Tengah berikutnya akan berperang demi air.
            Mengacu kepada data sejarah, mundur jauh pada saat Israel menyatakan dalam konferensinya pada tahun 1897 bahwa tanah nenek moyang mereka yang diduduki oleh Palestina dinyatakan sebagai tanah air Israel. Kedatangan bangsa Israel ini menempati lokasi dimana terdapat cekungan dari air Sungai Jordan. Konflik muncul karena air ini semula dikuasai Jordan, Syria, Tepi Barat yang kemudian direpresentasikan oleh Palestina juga dikuasai oleh Israel yang kemudian membuat perencanaan mengenai eksploitasi air dari danau Jordan tersebut. Ketegangan ini memicu revolusi Palestina pada tahun 1936 yang berlangsung selama 6  bulan yang meminta agar keluarnya imigran Yahudi dari tanah tersebut dengan tujuan membawa imigran baru. Negara Inggris berusaha menjadi penengah masalah antara negara Jordan, Palestina dan Israel.
            Beberapa konflik yang melibatkan militer terjadi berulang-ulang, terus menerus hingga akhir tahun 1950an. Amerika Serikat juga turut campur dalam masalah ini walaupun tidak pernah berhasil menyelesaikan konflik tersebut hingga sekarang. Sampai tahapan tersebut, masalah isu konflik air di Timur Tengah sudah memberikan gambaran dari kecukupan nilai isu yang sanggup memunculkan ancaman. Pertama karena melibatkan banyak aktor yaitu negara-negara dan kedua karena memenuhi dua agenda secara saintifik dan politik. Masalah ini juga mendapatkan perhatian dari berbagai kelompok karena kemudian melibatkan unsur religi sehingga kemudian berkembang menjadi konflik agama. Jelas bahwa masalah konflik air juga dapat menjadi salah satu konflik sekuriti non-tradisional yang diawali tanpa melibatkan senjata namun dapat berkembang menjadi konflik yang melibatkan banyak unsur. Suatu kompleksitas yang kemudian membawa berbagai pihak terkait satu dengan yang lainnya karena adanya interdependency dalam sistem politik internasional hingga saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar