Meskipun
wilayah Timur Tengah sendiri dibatasi oleh 2 samudra yaitu: Samudra Atlantik di
Barat, dan Samudra India di Selatan, serta dibatasi juga oleh 6 laut yaitu;
Laut Tengah (Mediteranean), Laut Merah, Laut Arabia, Laut Mati, Laut Caspia,
dan Laut Aegean, namun keadaan masing-masing Negara Timur tengah akan pemilikan
Laut/Samudra tidaklah sama. Ada Negara yang memiliki pantai yang amat panjang
dan terdiri dari lebih dari satu Laut/Samudra seperti Arab Saudi yang memiliki
Laut Merah, dan Laut Arabia, Turki memiliki Laut Mati dan Laut Aegean, Israel
dan Mesir memiliki Laut Mediterranean dan Laut Merah, serta Moroko yang
memiliki Laut Tengah dan Samudra Atlantik, atau Uni Emirat Arab dan Oman yang
memiliki Laut Arab dan Samudra India. Sementara itu, ada Negara yang dapat
dikatakan sama sekali tidak memiliki pantai yaitu Yordania, atau memiliki
tetapi sangat terbatas seperti Irak dan suriah.
Mengingat pentingnya air laut bagi superioritas militer, pengangkutan
eksport minyak dari negara-negara Timur Tengah, dan sebagai pemasukan
penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun
dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut maka perbedaan kondisi air
laut tidak jarang menimbulkan konflik.
Bila sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak
1880 dan 1930, maka perbatasan laut baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an,
dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Masalah
perbatasan air laut di Timur Tengah pada umumnya disebabkan oleh jarak yang
terlalu dekat antara satu negara dengan negara yang lain. Masalah yang
berikutnya yaitu kandungan kekayaan alam yang terdapat di perbatasan laut
seperti minyak, mineral, dan ikan, juga pulau-pulau yang terdapat di perbatasan
sering sekali menimbulkan sengketa.
Masalah air tawar di Timur Tengah
tidak kalah penting dengan masalah air laut karena ini menyangkut secara
langsung kehidupan manusia. Kebutuhan akan air tawar di Timur Tengah semakin
meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah
penduduk, dan semakin ditingkatkanya pertanian dengan irigasi. Sehingga ada
kekhawatiran dalam waktu sepuluh tahun mendatang negara-negara Arab akan
menghabiskan sebagian besar pendapatan minyaknya untuk membeli air. Bahkan Bank
Dunia memperkirakan di tahun 1995 nanti Yordania, Israel, dan West Bank akan
kehabisan air permukaannya. Sedangkan menurut Boutros Ghali di Timur Tengah air
akan menjadi komoditi yang lebih berharga daripada minyak. Selanjutnya ia juga
mengatakan bahwa perang Timur Tengah berikutnya akan berperang demi air.
Mengacu kepada
data sejarah, mundur jauh pada saat Israel menyatakan dalam konferensinya pada
tahun 1897 bahwa tanah nenek moyang mereka yang diduduki oleh Palestina
dinyatakan sebagai tanah air Israel. Kedatangan bangsa Israel ini menempati
lokasi dimana terdapat cekungan dari air Sungai Jordan. Konflik muncul karena
air ini semula dikuasai Jordan, Syria, Tepi Barat yang kemudian direpresentasikan
oleh Palestina juga dikuasai oleh Israel yang kemudian membuat perencanaan
mengenai eksploitasi air dari danau Jordan tersebut. Ketegangan ini memicu
revolusi Palestina pada tahun 1936 yang berlangsung selama 6 bulan yang meminta agar keluarnya imigran Yahudi
dari tanah tersebut dengan tujuan membawa imigran baru. Negara Inggris berusaha
menjadi penengah masalah antara negara Jordan, Palestina dan Israel.
Beberapa
konflik yang melibatkan militer terjadi berulang-ulang, terus menerus hingga
akhir tahun 1950an. Amerika Serikat juga turut campur dalam masalah ini
walaupun tidak pernah berhasil menyelesaikan konflik tersebut hingga sekarang.
Sampai tahapan tersebut, masalah isu konflik air di Timur Tengah sudah
memberikan gambaran dari kecukupan nilai isu yang sanggup memunculkan ancaman.
Pertama karena melibatkan banyak aktor yaitu negara-negara dan kedua karena
memenuhi dua agenda secara saintifik dan politik. Masalah ini juga mendapatkan
perhatian dari berbagai kelompok karena kemudian melibatkan unsur religi
sehingga kemudian berkembang menjadi konflik agama. Jelas bahwa masalah konflik
air juga dapat menjadi salah satu konflik sekuriti non-tradisional yang diawali
tanpa melibatkan senjata namun dapat berkembang menjadi konflik yang melibatkan
banyak unsur. Suatu kompleksitas yang kemudian membawa berbagai pihak terkait
satu dengan yang lainnya karena adanya interdependency dalam sistem politik
internasional hingga saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar